Rabu, 01 Mei 2013

Apple Keluarkan Obligasi Terbesar dalam Sejarah

New York - Dengan uang kas sebesar US$ 145 miliar (Rp 1377 triliun), Apple Inc bisa membeli Facebook, Hewlett-Packard serta Yahoo, dan uangnya masih tersisa US$ 10 miliar.

Tapi, perusahaan yang didirikan almarhum Steve Jobs itu malah berencana menerbitkan surat utang alias obligasi senilai US$ 17 miliar (Rp 161 triliun). Utang ini akan digunakan dalam program pembelian kembali saham (buyback) yang akan dilakukan Apple dalam tiga tahun ke depan.

Nilai utangnya ini sangat besar dan bisa jadi rekor obligasi terbesar yang pernah diterbitkan perusahaan yang sahamnya tercatat di pasar saham Wall Street.

Manuver ini jadi pertanyaan di para pemegang saham: mengapa perusahaan yang punya banyak uang nganggur memilih untuk menjual surat utang?

Jawabannya adalah tingkat suku bunga obligasi di Amerika Serikat (AS) yang sangat rendah membuat banyak perusahaan melakukan hal yang serupa dengan total nilai hingga ratusan miliar dolar. Selain itu, permintaan dari investor obligasi yang cukup tinggi juga membuat perusahaan bisa mendapatkan dana mudah dan murah.

"Jika Anda melihat perusahaan besar seperti Apple atau Microsoft melakukan aksi korporasi sebesar ini, seperti surat utang berbunga rendah, ini menjadi langkah mereka mendapatkan keuntungan bagi pemegang sahamnya," kata analis dari S&P Capital IQ, Steven Miller, dikutip dari New York Times, Rabu (1/5/2013).

"Pasar obligasi seolah menarik para korporasi besar ini untuk menerbitkan surat utang karena memang biayanya cukup rendah," ujarnya.

Tapi rencana penerbitan surat utang ini sekaligus menimbulkan banyak tanda tanya di benak investor dan para fanboy-nya, terutama setelah harga sahamnya anjlok hampir setengah dari posisi tertingginya.

Banyak analis menilai langkah Apple mencari utang ini sudah tepat. Namun, uang yang didapat tidaklah cukup untuk memanjakan pemegang sahamnya. Produsen iPhone, iPad dan iMac ini harus terus berinovasi supaya tetap eksis di persaingan industri teknologi.

"Cara mendapatkan dana ini (utang) sudah tepat. Tapi perusahaan wajib terus berinovasi, tidak ada cara lain," kata Analis dari Bernstein Research, Toni Sacconaghi.

Pekan lalu, Apple sudah berniat melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan tujuan meningkatkan kembali harganya yang sudah jatuh. Dana yang disiapkan untuk aksi korporasi ini mencapai US$ 100 miliar (Rp 950 triliun).

Selain itu, Apple juga mengumumkan rencana pembagian dividen kepada pemegang saham sebesar US$ 3,05 (Rp 29.000) per lembar saham. Semua ini dilakukan untuk mengangkat harga sahamnya yang sudah terjun bebas sejak mencapai level tertinggi.

Sumber : detik.com